January 21, 2010

STIMULASI BICARA DAN BAHASA PADA BALITA

A. Pentingnya Stimulasi Kemampuan Bicara dan Bahasa pada Balita
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa stimulasi sangat diperlukan dalam perkembangan kemampuan bicara dan bahasa pada balita. Yang dimaksud stimulasi perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa pada balita adalah pemberian rangsangan pada anak dari dari sejak lahir dan dilakukan setiap hari yang diberikan oleh orang sekitarnya, termasuk orangtua, pengasuh, teman sebaya dan sebagainya yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan bahasa pada balita.
Oleh karena kemampuan berbicara dan bahasa merupakan hasil dari belajar melalui peniruan yang didengar anak dari orang lain, terutama orangtuanya (Yusuf, 2005) dan menurut Taningsih (2006) masa balita adalah usia yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa. Kemudian Adi Tagor (http://www.nakita.com, 2008) berpendapat bahwa belajar berbicara merupakan kunci penting untuk mengarahkan anak pada kemampuannya berbahasa yang timbul setelah usia 1 sampai 5 tahun.
Dari penjelasan di atas, disimpulkan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat penting untuk diberikan stimulasi pada kemampuan bicara dan bahasanya. Karena pada masa ini sering disebut masa “golden age”, yang dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa otak anak pada masa ini mampu menyerap pengetahuan dengan mudah. Dan Rose Mini Psikolog dari UI (http://buntetpesantren.org, 2008) berpendapat, “Bila spons adalah otak anak, stimulasi lingkungan adalah air yang bisa diserap dengan cepat.”
Melatih bicara anak sejak dini akan membantu kemampuan komunikasi anak. Setiap apa yang dikatakan oleh orang tua, akan tersimpan di memori otak anak dan suatu saat anak akan meniru apa yang dia perolehnya, baik itu yang diajarkan orang tua maupun oleh orang-orang disekitarnya (http://TipsKeluarga.com, 2009). Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian pakar perkembangan otak dari Amerika tahun 1999, Huttenlocher, Jusyck, dan Kuhl yang menunjukkan bahwa pada umur 6-12 bulan bayi dapat mengenali pola bicara orang di sekelilingnya. Bayi mampu mengenali kata-kata yang sering diucapkan ayah/ibunya. Makin sering orang tua berbicara kepada bayi maka semakin kaya perbendaharaan kata yang diperolehnya. Sehingga anak akan lebih terampil berbicara pada umur 5-6 tahun (http://www.nakita.com, 2008).
Ada beberapa pendapat menurut beberapa ahli mengenai waktu yang tepat untuk melatih kemampuan berbicara dan bahasa pada balita. Menurut Dr. Portwood (www.motherandbaby.co.id, 2008), “Masa di saat anak memasuki usia TK dan prasekolah, yaitu antara usia 3 hingga 5 tahun adalah waktu yang sangat penting untuk belajar dan berkembang.” Kemudian psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini (http://buntetpesantren.org, 2008) berpendapat, “Hasil penelitian membuktikan otak anak-anak pada usia emas, yakni 1-3 tahun mampu menyerap pengetahuan dengan mudah. Bila spons adalah otak anak, stimulasi lingkungan adalah air yang bisa diserap dengan cepat.”
Sedangkan dalam situs belajar psikologi (http://masbow.com, 2009), disebutkan bahwa 0-5 tahun merupakan “golden age” dimana 80 persen otak anak berkembang pada masa tersebut. Pada masa tersebut peran orang tua sangat besar dalam mengawasi proses tumbuh dan berkembang otak anak. Dan menurut psikolog perkembangan anak, Felicia Irene, (http://blogsome.com, 2006) “Pada masa ini anak memiliki konsentrasi 100% dalam ingatannya saat menerima informasi.”
Hal tersebut lebih dijelaskan dengan adanya penelitian tentang “golden periode”, yang dilakukan oleh Maria Montessori (http://wordpress.com/puskesmaspenengahan, 2009) wanita pertama yang menyandang gelar Kedokteran di Italia:
“Golden Periode merupakan periode dimana jaringan otak yang mengendalikan fungsi-fungsi tubuh itu sedang tumbuh dan berkembang. Saat lahir, bayi punya 100 miliar sel otak yang belum tersambung. Satu sel otak mampu membuat 15.000 hubungan dengan sel otak yang lain yang kemudian akan membentuk jaringan antar sel-sel otak. Pada usia 0-3 tahun terdapat 1000 triliun koneksi (sambungan antarsel), jumlah ini merupakan 2 kali lipat dari jumlah koneksi jaringan otak pada orang dewasa.”

Pada masa balita inilah anak-anak bisa mulai diperkenalkan berbagai hal dengan cara mengulang-ulang. Rangsangan yang terus-menerus, yang diberikan melalui bentuk kegiatan yang berulang-ulang, akan semakin memperkuat hubungan antar sel-sel otak. Maka dari itu, stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi yang disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya. Pada usia 6 tahun, koneksi yang terus diulang akan menjadi permanen. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan dibuang. Oleh karenanya, sebelum usia 6 tahun adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan daya serap otak anak (http://wordpress.com/puskesmaspenengahan, 2009)
Pendapat Montessori di atas terbukti pada penelitian (http://balitacerdas.com, 2008) tentang pengucapan bunyi “L” yang diadakan di Jepang. Dari riset yang dilakukan ditemukan, bayi-bayi di negeri Sakura hingga usia 6 bulan masih peka terhadap pengucapan /l/. Namun saat menginjak usia 1 tahunan kepekaan itu hilang karena bunyi /l/ dalam bahasa Jepang tidak diperlukan. Penelitian ini membuktikan bahwa jika anak tidak mendapatkan stimulasi kemampuan bicara dan bahasa dari orangtua dan lingkungannya, maka kemampuan bicara dan bahasanya akan terbatas. Dan Felicia Irene (http://blogsome.com, 2006) mengatakan, “Jika seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar di usia dini, maka perkembangan otaknya pun akan berlangsung di bawah rata-rata. Kemampuan logika, bahasa, dan menyelesaikan masalahnya menjadi terbatas”. Sehingga sangat penting bagi seorang anak untuk mendapatkan stimulasi sedini mungkin yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasanya.

B. Macam-macam Stimulasi Kemampuan Bicara dan Bahasa pada Balita
Craig dan Sharon Ramey, Direktur Civitan International Research Center, University of Alabama (http://blogsome.com, 2006) mengatakan, “Metode dan stimulasi sangat mempengaruhi perkembangan otak secara optimal.” Dan telah dijelaskan pada bab sebelumnya mengenai tahapan-tahapan stimulasi menurut Dr. Miriam Stopard, Depkes RI, Laura Dyer dan Benny Ciptaraja yang mengelompokkan stimulasi kedalam beberapa tahap, sesuai dengan tahapan perkembangannya. Mereka menyebutkan beberapa macam stimulasi yang dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasa pada balita sebagai berikut.
1. Melatih Organ Bicara Balita
Sejak lahir hingga masa balita, keterampilan gerakan mulut bayi berkembang dengan cepat. Otot-otot rahang, bibir dan lidah belajar bekerja sama untuk menggigit, mengunyah, menelan dan memproduksi bunyi-bunyi bahasa. Pada usia 5-7 bulan, bayi memiliki refleks menggigit yaitu menggerakan rahangnya ke atas dan ke bawah. Hal ini merupakan tahap pertama menuju mengunyah yang membantu melatih otot-otot rahang untuk makan, minum dan berbicara. Kemampuan menggerakkan lidah dan bibir biasanya muncul pada usia 6-7 bulan dan sudah lancar pada usia 3 tahun. Sedangkan penggunaan bibir biasanya berkembang baik setelah mencapai usia 10 bulan. (Dyer, 2009)
Menurut Dra. Shinto B. Adelaar, M.Sc., dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (http://nakita.com, 2009):
“Pada usia 3 bulan, bayi tampak senang bermain ludah. Bermain ludah berkaitan dengan awal perkembangan kemampuan bicaranya. Saat itu bayi juga mulai mengeluarkan suara-suara dan mengeluarkan udara dari mulutnya yang berarti mengoordinasikan alat-alat bicaranya seperti lidah, bibir dan lainnya. Tampak pula ia berusaha menemukan cara untuk mengatur ludah dalam mulutnya.”

Carmen Fernando (Dyer, 2009), seorang peneliti khusus tentang kaku lidah, menemukan bahwa kaku lidah dapat mempengaruhi kejelasan pengucapan, kelancaran produksi ucapan dan kualitas bunyi ucapan. Maka dari itu, agar balita tidak mengalami kesulitan/gangguan dalam pengucapannya, orangtua perlu melatih organ bicara balitanya. Menurut Aulia Ainin (2009), agar gangguan artikulasi pada balita dapat diatasi sejak awal, maka berikan latihan pada organ bicara balita sebagai berikut:
“Melatih organ bicara dapat dilakukan dengan cara mengajarkan anak untuk mengunyah makanan dengan benar. Kedua, ajarkan anak untuk meniup balon, terompet dan seruling, proses mengeluarkan udara dari dalam yang hampir sama dengan proses bicara. Bila bisa meniup dengan baik, anak diharapkan bisa memproduksi kata dengan baik pula. Ketiga, latih fungsi lidah seperti menjilat, menjulurkan lidah ke atas, ke bawah dan ke samping. Keempat, latihan menggembungkan pipi dan tersenyum yang bertujuan melatih organ bicara.”

Sedangkan Laura Dyer (2009) menyarankan untuk menghentikan penggunaan dot setelah anak mencapai usia 10 bulan. Menurut D. C. Bahr penulis buku “Oral Motor Assessment and Treatment” (dalam Dyer, 2009), dot ataupun cangkir sedot dapat mengancam perkembangan otot-otot mulut karena keduanya hanya membuat seorang bayi menggerakkan lidahnya dengan gerakan ke depan dan belakang. Dengan bertambanya usia, seorang anak harus dapat menggerakkan lidahnya ke semua arah. Apabila anak mengalami kesulitan menggerakan lidahnya ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri atau belakang, ia beresiko tinggi untuk mengalami berbagai gangguan bicara.
Cangkir yang paling baik untuk mendukung fungsi gerakan mulut yaitu memiliki celah/lubang-lubang yang kecil ditutupnya. Model tersebut dapat merangsang anak untuk menggerakan rahang, bibir dan lidah. Menggunakan cangkir dengan sedotan yang pendek juga dapat mendukung penguatan gerakan mulut yang lebih baik dan gerakan refleks menelan yang lebih kuat. Panjang sedotan yang masuk ke mulut anak sekitar 1-2 cm, agar merangsang anak untuk menggunakan bibirnya saat menyedot dan menggerakan lidahnya untuk menelan. Jika sedotan terlalu panjang sehingga menyentuh lidahnya, maka gerakan menelannya tidak akan sempurna. (Dyer, 2009)

2. Mengajak Balita Berbicara
Menurut Psikolog Perkembangan, Pamugari Widyastuti, “Orangtua harus banyak-banyak mengajak anak berbicara, sembari mengenalkan lingkungan juga kenalkan pada konsep-konsep sederhana seperti besar-kecil, atas-bawah, basah-kering, dan sebagainya.” (http://wordpress.com/keluargasehatkeluargabahagia, 2009)
Dan menurut Soedjatmiko, Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, “Mengajak bicara bayi sejak usia dini merupakan juga bagian dari stimulasi yang banyak bermanfaat bagi keseimbangan perkembangan otak kiri dan otak kanannya, terutama pada kemampuan komunikasi-bahasa si kecil.” (http://parentsguide.co.id, 2009)
Penelitian yang dilakukan oleh Frederick J. Zimmerman, dkk (2009) dari University of California Los Angeles, menunjukkan ditemukan bahwa melibatkan anak dalam percakapan menunjukkan 4 kali lebih efektif dalam perkembangan kemampuan berbahasa anak daripada mendengarkan cerita dan bahkan 11 kali lebih efektif daripada menonton.
Studi tersebut dilakukan pada 275 anak berusia antara 2 bulan hingga 4 tahun yang masing-masing menggunakan alat perekam digital kecil pada hari-hari tertentu yang dipilih secara acak setiap bulannya selama 2 tahun. Sebuah rompi didesain khusus dengan saku dada tempat menempelkan alat perekam yang akan menangkap setiap kata yang diucapkan maupun didengarkan oleh anak selama periode 12-16 jam. Yang menjadi parameter dalam studi ini antara lain adalah jumlah kata yang diucapkan oleh pendamping anak (rata-rata 13.000 kata) dan interaksi verbal anak dalam percakapan (rata-rata 400 kata).
Hasilnya, pada anak dengan stimulasi percakapan satu arah (bercerita), nilai PLS (Preschool Language Scale) anak mengalami peningkatan sebanyak 0,44. Pada anak dengan stimulasi menonton video edukasi selama 1 jam, nilai PLS mengalami penurunan sebanyak 2,68 dari nilai normalnya. Sedangkan anak dengan stimulasi percakapan dua arah (bercakap-cakap), nilai PLS mengalami peningkatan sebanyak 1,92.
Menurut Jacinta F. Rini (2005), “Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya memberikan instruksi atau jawaban sangat singkat. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan anak yang dapat membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata.” Menurut hasil penelitian (http://buntetpesantren.org, 2008), bayi dapat menyerap 13 juta kata yang diucapkan orang tuanya. Namun bila orang tua enggan mengajak bayi mereka berbicara, jumlahnya turun menjadi 62% atau hanya 8 juta kosakata.

3. Memperkenalkan Balita dengan Berbagai Suara
Sebelum mengenalkan balita dengan berbagai suara, beri rangsangan untuk mencari sumber suara. Hal ini merupakan salah satu cara untuk dapat mengetahui apakah ada masalah dengan pendengarannya atau tidak. Karena pada topik sebelumnya sudah dijelaskan bahwa faktor pendengaran dapat mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa pada balita.
Penelitian (http://blogsome.com, 2006) menunjukkan bahwa anak usia dua bulan sudah dapat menyuarakan nada tinggi dari nyanyian yang didengarnya, misalnya lagu yang disenandungkan ibunya. Selain itu, di usia empat bulan anak sudah mampu mengikuti ritme/irama lagu. Menurut Marzuki (2008) “Pada masa balita, yang lebih berkembang adalah otak kanan. Otak kanan, lebih banyak berkaitan dengan intuitif, insting, kemampuan memahami irama, musik dan imajinasi. Sehingga berikan stimulasi pada balita yang merangsang kreativitas dan daya pikirnya, seperti mengajak bernyanyi atau mengajarkan irama.”
Hal ini diteliti oleh Don Champbell dan telah terbukti musik dapat menstimulasi otak agar bayi lebih aktif saat bermain. Musik yang lembut dapat membuat bayi tenang beristirahat sehingga orang tuanya juga dapat beristirahat dengan baik. Penelitian ini dari institusi Hukum di Florida serta ahli dari Perancis Dr. Alfred Tomatis, membuktikan musik Mozart dapat mengembangkan kemampuan bicara, memperbaiki gerakan tubuh dan mengembangkan otak kiri yang mengasah kemampuan berpikir secara logika. (Makmur, 2008)
Dengan menyanyi, balita akan lebih cepat menghafal kosakata dan cepat mengucapkan kata/lirik dalam nyanyian tersebut. Hal ini terbukti pada anak yang bernama Ayya (http://asiabloggingnetwork, 2007) berusia 1 tahun lebih, yang sudah lancar menyanyikan salah satu lagu Mata Band. Juga dialami oleh Nesya (salah satu rekan penulis) berusia 3 tahun, yang sudah lancar menyanyikan beberapa lagu dewasa, terutama salah satu lagu Anang yang merupakan lagu kesukaannya. Sedangkan mereka tidak mengerti dengan kata-kata yang mereka nyanyikan.
Pada masa sekarang, jarang sekali anak-anak yang menyanyikan lagu seusianya, seperti “Bintang Kecil”, “Pelangi”, “Cicak di Dinding”, dsb. Padahal lagu anak-anak mengandung lirik sederhana yang dapat mengenalkan anak pada alam dan menambah kosakata dan pemahamannya. Kemudian anak dirangsang untuk melakukan gerak tubuh (seperti lagu “Topi Saya Bundar”) yang berkaitan dengan lagu-lagu karena menurut Dyer, gerakan memberikan kemudahan dalam berfikir.
Selain itu, perkenalkan sajak pada balita. Berdasarkan penelitian (http://blogsome.com, 2006) di University Oxford, Inggris, semakin sering anak mendengarkan sajak maka semakin cepat anak mengerti kata-kata. Menurut Dyer, “Sajak dapat meningkatkan interaksi langsung dan membantu mengembangkan kemampuan daya ingat anak serta memberikan kesempatan pada anak untuk mengajarkan kata-kata baru.”

4. Membacakan Buku Untuk Balita
Menurut Liz Attenborough (http://www.motherandbaby.co.id) pakar perkembangan anak dari National Literacy Trust, “Membacakan buku cerita adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan otak anak.” Dengan demikian, dapat memperkenalkan struktur dan pola kalimat serta sebagai sumber kosakata, yang membantu membangun dasar kemampuan bicara dan bahasa anak. Selain itu, buku juga membantu anak untuk mengekspresikan emosi serta mengutarakan apa yang ia pikirkan.
Idealnya anak mulai diperkenalkan pada buku saat ia sudah dapat duduk dipangku atau duduk sendiri, sekitar usia 6 bulan. Murti Bunanta (http://blogger.com, 2009) dari Kelompok pencinta Bacaan Anak (KPBA) mengatakan, “Di usia ini anak mulai dapat dengan nyaman melihat aneka gambar yang ada di buku. Ia pun dapat meraba dan memegang buku yang dibacakan untuknya.” Melalui kebiasaan ini diharapkan akan timbul anggapan bahwa buku adalah sesuatu yang menarik. Pada usia ini, lebih banyak memberikan stimulasi seperti menyebutkan dan menunjukkan nama-nama gambar. Saat anak memasuki usia 13 bulan, maka bacakan buku cerita bergambar yang tercantum beberapa kata di dalamnya. Saat ini, anak mulai diperkenalkan dengan membaca cerita/dongeng.
Telah dibahas pada topik sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh Zimmerman, dkk (2009) bahwa membacakan cerita untuk anak menunjukkan 7 kali lebih efektif dalam perkembangan kemampuan berbahasa anak daripada menonton. Dengan bercerita, dapat meningkatkan nilai PLS sebanyak 0,44. penelitian ini menunjukkan bahwa banyak manfaat yang dapat digali dari kegiatan bercerita. Menurut Psikolog Anak dari Universitas Indonesia, Surastuti Nurdadi (http://bisnis.co.id, 2009), “Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi antara orangtua dan anak. Dengan mendongeng, anak dapat belajar berbahasa, menambah pengetahuan, dan emosi serta kemampuan bahasanya akan meningkat lewat kosa kata bahasa yang makin banyak.”
Sedangkan Roslina Verauli, dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (http://blogpendidikananak, 2008) berpendapat, “Mendongeng bermanfaat dalam menambah perbendaharaan kata anak. Ketika mendongeng, pancing anak untuk menceritakan kembali isi dongeng yang telah didengarnya.” Hal ini dilakukan ketika anak sudah mencapai usia 2 tahun. Selain mengembangkan kemampuan berbicaranya, Ruhan (2009) menyebutkan bahwa dengan mendongeng, orangtua dapat menanamkan nilai-nilai dan pesan-pesan moral serta pengetahuan kepada anak.
Selain itu, para ahli pendidikan telah membuktikan bahwa satu-satunya cara yang paling berhasil untuk menanamkan kegemaran membaca pada anak adalah dengan membacakan buku selagi masih balita (Harjaningrum, 2004). Untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, di Jepang diberlakukan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child. Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (http://blogger.com, 2009)
Sekitar 30% anak mengalami kesulitan membaca pada saat mulai bersekolah dan anak yang menghadapi resiko paling besar akibat kesulitan membaca ini adalah anak yang di rumah tidak pernah dibacakan (http://PustakaAnak.com, 2009). Data yang didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 (http://rumahcerdaskreatif.com, 2009) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%).
Maka dari itu, biasakan untuk membacakanya buku sejak dini sekurang-kurangnya 20 menit/hari seperti yang dilakukan di Jepang, dengan harapan agar balita mengalami peningkatan dalam perkembangan bahasanya juga mengurangi resiko kesulitan membaca pada anak dan menumbuhkan minat bacanya di kemudian hari. Selain itu, jadilah model bagi anak, dengan menunjukkan bahwa orangtua pun senang membaca untuk diri sendiri. Sri Razwanti Suciyati Psi. (http://blogger.com, 2009) berpendapat, “Jangan harap anak akan menyukai buku jika orangtua sendiri tidak pernah menyentuhnya. Maka, jadilah pembaca buku yang baik.”

5. Berbicara Dengan Anak Seusianya
Dari pengalaman James Mac Donald (http://www.parenting.co.id, 2007) yang telah mengikuti perkembangan kemampuan berkomunikasi anak-anak di lebih dari 500 keluarga mengatakan, “Anak akan bicara ketika anak-anak itu sudah mengembangkan hubungan dengan orang-orang yang masuk ke dalam dunia mereka dan menjadi mitra mereka yang memiliki laju kecepatan sama dengan mereka.” Hal ini dialami oleh Dhany (http://RumahCerdasKreatif.com, 2009) berusia 2 tahun. Orangtuanya khawatir karena hingga saat itu anaknya belum berbicara. Mereka mengatakan, “Dhany hanya bisa ah..uh..ah..uh ketika meminta sesuatu.” Akhirnya orangtuanya berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan dasar seperti pendengaran, serta perkembangan motorik kasarnya dan hasilnya menunjukkan tidak ada kelainan.
“Sesuatu yang menurut kami adalah anugrah, terjadi di bulan ke 2 setelah ulang tahunnya yang kedua. Satu hari setelah berkunjung dari rumah neneknya, Dhany tanpa ditanya dan diduga, tiba-tiba dapat lancar berbicara. Gaya bicaranya tidak menunjukkan bahwa Dhany seperti anak yang memiliki problem bicara sebelumnya. Dhany tiba-tiba lancar berbicara seperti layaknya anak yang selama ini disumpal mulutnya dengan lakban, lalu ketika lakban dibuka langsung dapat berbicara”

Kemudian mereka mencari tahu apa yang terjadi di rumah neneknya karena setelah pulang dari rumah nenek, Dhany menjadi lancar berbicara. Menurut neneknya, selama 2 hari Dhany nampak asyik bermain dengan anak-anak usia 4-5 tahun yang lincah dan lantang berbicara. Mereka berteriak kencang, tertawa dan saling berbicara dengan suara keras ketika bermain. Hal ini menunjukkan bahwa begitu pentingnya mengenalkan balita dengan anak seusianya. Selain mengajarkan anak bersosialisasi, ternyata hal tersebut dapat mengembangkan kemampuan komunikasi balita.
Menurut Mirriam Stopard (dalam Zaviera, 2008), “Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam Play Group dengan alasan agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasinya.” Penelitian (dalam Dyer, 2009) menunjukan bahwa Play Group dapat membantu keterampilan kognitif dan sosial anak serta keterampilan bahasa.
Hal ini dialami oleh Mutiara Azzahra (http://kliniktumbuhkembang, 2009) berusia hampir 4 tahun, belum bisa berbicara dan hanya menunjuk jika meminta sesuatu. Setelah orangtua memasukan Mutiara ke Play Group, akhirnya ia bisa menirukan kata-kata. Juga dialami kepokanan Liza (http://balita-anda.com, 2004) yang tidak bisa berbicara. Tetapi setelah orangtuanya memasukan ia ke Play Group, akhirnya keponakannya dapat berbicara dengan lancar.
Dari penjelasan serta berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dengan memasukan balita dalam PAUD dapat memberikan berbagai manfaat bagi balita, terutama mengenalkan ia dengan anak seusianya dapat membantu dalam mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya. Bermain merupakan pembelajaran di dalam PAUD, karena dengan bermain dapat memberikan kesempatan pada anak untuk belejar tentang dunia, berinteraksi secara sosial, mengekspresikan dan mengontrol emosi mereka. Maka, tidak ada salahnya bagi orangtua untuk memasukkan balitanya ke PAUD seperti Play Group, BKB, TPA dan sebagainya.
Terdapat PAUD yang menawarkan pendidikan untuk anak-anak mulai dari usia yang sangat dini yaitu 6 bulan sampai usia cukup untuk masuk TK, yaitu sekitar umur 4 tahun. Tetapi bukan berarti orangtua melepaskan tanggung jawab mendidik anak kepada guru, orang tua tetap harus bertanggung jawab dan selalu memperhatikan perkembangan anaknya.

6. Memperkenalkan Acara Televisi pada Balita
Menurut Depkes RI (2005) anak diperbolehkan melihat acara anak-anak di televisi tidak lebih dari 1 jam sejak usia 18 bulan dan tidak lebih dari 2 jam pada usia 36 bulan, dengan didampingi oleh orang tua. Lain halnya dengan anjuran American Academy of Pediatrics (AAP) yang merekomendasikan, “Bagi anak-anak yang berusia 2 tahun lebih agar tidak menonton TV lebih dari 2 jam setiap harinya, sementara anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun seharusnya tidak menonton TV sama sekali.” Hal tersebut mungkin terdapat hubungan dengan grafik dibawah ini.

Grafik tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Laura K. Certain dan Robert S. Khan (2002) yang menunjukkan bahwa lamanya menonton pada anak-anak, akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Anak yang menonton TV lebih dari 2 jam pada usia 2 tahun umumnya akan menonton 5-6 jam jam/hari pada usia 8 tahun, yang mencapai hampir setengah dari waktu terjaga seorang anak.
Telah dibahas pada topik sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh Zimmerman, dkk (2009) menunjukkan bahwa dengan menonton, mengurangi nilai PLS sebanyak 2,68 dari nilai normal. Sedangkan kedua stimulasi lain meningkatkan nilai PLS anak.
Menonton TV merupakan pembelajaran yang pasif, sedangkan balita belajar lebih baik dengan pengalaman yang langsung dirasakannya. Maka dari itu, AAP menganjurkan agar orangtua melibatkan anak dalam berbagai kegiatan yang interaktif, seperti berbicara, bermain, bernyanyi dan membaca daripada menonton acara televisi. Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh University of Washington di Seattle, AS (http://www.motherandbaby.co.id, 2008), menemukan bahwa batita yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan nonton televisi, pada usia 6 dan 7 tahun akan memilki kemampuan membaca dan matematika paling buruk di kelasnya. Hal ini berhubungan dengan buruknya kemampuan berkonsentrasi pada anak.
Sementara itu, ketika penelitian Zimmerman, dkk dimuat dalam jurnal Pediatrics, Robert Iger, salah satu CEO Disney (http://praktekku.com, 2009), menuntut para peneliti untuk menarik pengumuman persnya. Karena penelitian yang menunjukkan bahwa program acara Disney’s Baby Einstein membuat bayi-bayi tidak aktif berbicara selama program mereka diputar di televisi, dirasa menyerang keberlangsungan program acara Baby Einstein.
Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari Dr. Madeleine Portwood (http://www.motherandbaby.co.id, 2008), kepala penasihat Perkembangan Anak di British Psychological Society. Ia mengatakan:
“Televisi dan DVD bisa menjadi media yang sempurna bagi si kecil untuk merasakan pengalaman yang baru, berpetualang, berkhayal dalam sebuah kisah. Beberapa film kartun produksi Walt Disney ada yang bagus, juga film musikal seperti The Sound of Music dimana anak-anak bisa belajar menyanyi sekaligus mendengarkan kata-kata yang puitis dan berirama. Namun tentunya tetap harus tahu batas. Jika si kecil sudah mulai bisa mengulangi kata-kata yang ada dalam film, itu tandanya ia sudah terlalu banyak di depan televisi”

Beberapa penelitian di atas telah menunjukkan hubungan antara menonton TV dengan perkembangan kemampuan bahasa anak. Beberapa peneliti menyatakan bahwa dengan menonton, maka perkembangan bahasa akan lebih lambat. Sedangkan penelitian lain menunjukan bahwa dengan menonton, maka perkembangan bahasanya akan lebih baik dengan mendorong perkembangan kosakata dan berbagai keterampilan menjelang baca tulis serta mereka dapat mempelajari berbagai kata dan artinya dari acara TV yang ditontonnya.
Hal tersebut dialami oleh salah satu rekan penulis yang sering mempertontonkan acara TV dalam bentuk CD program pendidikan anak kepada anaknya yang bernama Adam, sejak usia 2 tahun. Hasilnya, pada usia 3 tahun Adam sudah bisa membaca dengan lancar tanpa mendapat bantuan dari orangtuanya serta mengerti banyak kosakata dalam Bahasa Inggris maupun dalam Bahasa Indonesia. Tetapi muncul masalah pada perkembangan sosialnya, hingga usianya mencapai 4 tahun, ia tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, selain orangtua dan keluarga yang tinggal di lingkungannya. Ia akan selalu mengatakan “Belum”, pada setiap orang yang mengajaknya berbicara.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa terdapat keuntungan dan kerugian yang dapat mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa pada balita. Maka dari itu, batasi waktu menonton televisi 1-2 jam sehari untuk anak 2 hingga 5 tahun, dan tidak menonton bagi anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Tentunya yang ditonton juga harus mendidik dan jangan lupa untuk mendampingi anak saat mereka duduk di depan televisi.
Bagaimanapun, setiap orangtua bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. Untuk itu, orangtua harus lebih kritis dan cermat dalam menentukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Memang, tidak mudah untuk merubah kebiasaan yang telah ada, tetapi terkadang diperlukan sebuah keberanian dan tekad untuk sebuah perubahan demi masa depan yang lebih baik.

C. Metode Stimulasi Kemampuan Bicara dan Bahasa pada Balita
Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya mengenai tahapan-tahapan stimulasi menurut Dr. Miriam Stopard, Depkes RI, Laura Dyer dan Benny Ciptaraja, maka dapat disimpulkan bahwa metode stimulasi kemampuan bicara dan bahasa balita sebagai berikut.
1. Fase Pre-Linguistik (0-12 bulan)
a. Melatih organ bicara
1) Menghisap, menjilat, tertawa, menyemburkan gelembung dan mengunyah
2) Latih pengucapan /p/, /b/, /m/ serta huruf vokal, seperti /baba/, /bibi/, /mimi/, /papa/, /mama/. Ucapkan dengan jelas, tidak terburu-buru, serta perlihatkan gerak lidah dan bibir dengan jelas

b. Mengajak berbicara
1) Jangan membiarkan bayi ketika menangis
2) Selalu mengajak berbicara sesering mungkin setiap ada kesempatan mengenai aktivitas yang sedang dilakukan, benda-benda sekitar dan sebagainya, walaupun bayi belum bisa mengucapkan, tetapi pemahaman bayi akan bertambah.
3) Tanggapi segala bentuk suara yang dikeluarkan bayi saat diajak berbicara
4) ketika anak mulai mengucapkan kata-kata yang belum jelas, ikuti kata-katanya dengan mengucapkan yang benar
c. Mengenalkan berbagai suara
1) Merangsang bayi untuk mencari sumber suara dengan membunyikan lonceng di sampingnya.
2) Memperdengarkan berbagai suara seperti musik, orang bicara, suara dari kerincingan, mainan yang dipencet atau bel
3) Menyanyikan lagu dan bacakan sajak anak secara berulang, pengulangan membantunya belajar
d. Membacakan buku
1) Perlihatkan buku bergambar hanya berisi gambar-gambar berwarna untuk menarik perhatian bayi saat ia berusia 6 bulan
2) Tunjuk sebuah gambar dan sebutkan namanya ketika bayi melihatnya, makin sering mendengar nama suatu objek, makin besar akan dapat mengucapkannya
2. Fase Holofrase (12-18 bulan)
a. Melatih organ bicara
1) Awal tahun pertama, latih pengucapan seperti /ua/, /ui/, /oe/, atau /wa/, /au/, /ai/, /ae/, /ao/, /ha/, /hi/, /ho/, /hai/, /bai/, /mau/, /bau/ dan sebagainya
2) Sekitar 15 bulan, latih pengucapan /n/, /d/ dan /t/, seperti /nana/, /nene/, /tata/, /dudu/, /dada/, /dede/ dan sebagainya
3) Tunjukkan posisi lidah jika pengucapan tidak juga sempurna
b. Mengajak berbicara
1) Doronglah untuk menunjuk sesuatu dan menyebut namanya
2) Ajari kata benda, kata sifat dan kata kerja dengan menyebut nama benda yang sedang diperhatikannya karena lebih mudah memahami kata kerja lebih awal dibandingkan mengucapkannya
3) Ajak bermain sambil berbicara dengan menggunakan boneka dan telepon-teleponan
c. Mengenalkan berbagai suara
1) Mengenalkan berbagai suara, seperti suara binatang, alat musik atau kendaraan kemudian rangsang anak untuk mengikuti suara-suara tersebut
2) Ajari sajak dan lagu mengenai anggota tubuh, seperti “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki”. Nyanyikan lagu itu secara perlahan dan berikan waktu bagi anak untuk menunjukkan bagian tubuh yang dimaksud
d. Membacakan buku
1) Rangsang anak untuk mengulang kembali nama gambar yang disebutkan/ditunjukkan
2) Membacakan buku cerita bergambar pada anak sesering mungkin dan mengulang cerita yang sama dalam beberapa kali
3) Perpanjang rentang perhatian anak dengan memberikan makanan ringan dan berikan anak benda-benda, seperti boneka, mainan binatang, yang berhubungan cerita untuk dipegang

3. Fase Kalimat dengan 2 Kata (18-24 bulan)
a. Melatih organ bicara
1) Latih pengucapan /k/, seperti /aku/, /kake/, /kuku/, /buku/, /paku/, /bisu/, /kakak/ dan sebagainya
2) Jika pengucapan /k/ sudah fasih, latih pengucapan /g/, seperti /tiga/, /tigabelas/, /tigapuluh/, /tigapuluh tiga/ dan latihan bisa digabung dengan bunyi nasal /ng/, misalnya /nangis/, /anjing/, /kucing/, /gong/, /gang/, /agung/, /es agogo/ dan sebagainya
b. Mengajak berbicara
1) Kenalkan anak pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas (anak baik, nakal, pintar, dll), keadaan/peristiwa yang terjadi (sekarang, besok, kemarin, dll) serta kata-kata yang menunjukkan tempat (di sini, di atas, di bawahm dll)
2) Ajari anak konsep berhitung hingga angka dua dengan memperlihatkan pada anak bagaimana cara menghitung mainanya
3) Rangsang anak agar bercerita tentang apa yang dilihatnya/dialaminya
4) Hindari untuk meminta anak menyebutkan kata-kata tertentu atau suatu kalimat untuk pamer kepada keluarga atau teman
c. Mengenalkan berbagai suara
1) Membuat suara-suara, seperti alat musik, rangsang anak agar menirukan suara tersebut
2) Perlihatkan pada anak bagaimana bernyanyi, bertepuk tangan dan mengikuti nada ketika mendengarkan musik
d. Membacakan buku
1) Ketika melihat buku bersama, mungkin akan kembali ke halaman sebelumnya dan menyebutkan nama binatang kesayangannya, maka ikuti topik pembicaraannya
2) Membacakan buku cerita setiap hari dan rangsang anak untuk menceritakan gambar yang ada di buku cerita
3) Kenalkan mengenai konsep warna yang terdapat dalam buku

4. Usia 2-3 Tahun
a. Melatih organ bicara
1) Latih pengucapan /l/, seperti /lama/, /lalu/, /bulu/, /palu/, /malu/, /telah/, /lain/, /lupa/, /lelah/, /bolu/ dan sebagainya
2) Waktu yang tepat untuk melatih bunyi lateral adalah ketika anak berkata “Pelmen”, yang dimaksudnya adalah “Permen”
b. Mengajak berbicara
1) Ajari anak agar dapat menyebutkan nama lengkapnya
2) mengenalkan nama-nama benda-benda disekitarnya dan minta anak untuk menyebutkan kembali di lain waktu
3) Bicarakan tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu untuk meningkatkan kemampuan mengingat anak
c. Mengenalkan berbagai suara
Perkenalkan beberapa bunyi alat musik dan bicarakan tentang perbedaan bunyi yang dihasilkannya
d. Membacakan buku
1) Ceritakan yang lebih kompleks secara berulang agar anak dapat mengingatnya
2) Rangsang anak untuk menceritakan kembali buku yang pernah dibacakan
3) Rangsang anak untuk mencocokkan warna dan menyebutkan beberapa warna pokok
e. Mengenalkan pada teman seusianya
Kenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya, seperti PAUD, BKB, play group, taman bermain, dan sebagainya
f. Mengenalkan acara televisi
a. Kenalkan balita pada acara televisi yang dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasanya, seperti Sesame Street yang selalu mengenalkan konsep bahasa
b. Waktu menonton tidak melebihi 2 jam setiap harinya
c. Selalu mendampingi anak ketika menonton


5. Usia 3-4 Tahun
a. Melatih organ bicara
1) Latih pengucapan /s/, seperti /pipis/, /pus/, /bis/, /pas/, /mas/, /es/ dan sebagainya
2) Jika pengucapan /s/, sudah fasih, latih pengucapan /c/, seperti /cici/, /cucu/, /caca/ dan sebagainya
b. Mengajak berbicara
1) Rangsang anak untuk menceritakan tentang dirinya dan rangsang ia agar menggunakan kalimat lebih dari 2 kata
2) Mengajaknya mendiskusikan tentang sesuatu hal yang sangat sederhana
3) Untuk meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat, berbicara pada anak dengan kalimat yang panjang dan kompleks
c. Mengenalkan berbagai suara
1) Bermain sambil bersajak menyenangkan untuk anak yang sudah memahami dan mampu mengubah lirik lagu atau kata-kata sajak
2) Perkenalkan anak pada huruf alfabet dengan menggunakan nyanyian
d. Membacakan buku
1) Berikan hadiah sikap baik anak dengan buku daripada permen atau mainan
2) Membacakan buku setiap hari
3) Rangsang anak untuk menceritakan kembali buku yang pernah dibacakan

e. Permainan sosial
1) Libatkan dalam permainan imajinasi, seperti memanfaatkan peralatan rumah tangga biasa, lalu dorong ia untuk membayangkan segala macam benda yang dapat dibuat dengan barang-barang tersebut
2) Ajarkan anak untuk bermain peran, dengan cara memberikan beberapa pakaian tua kepada anak dan biarkan ia bermain dengan mencoba mengenakannya dan bergaya

6. Usia 4-5 Tahun
a. Melatih organ bicara
Latih pengucapan /r/, seperti /beri/, /kue mari/, /roda/, /permen/ dan sebagainya. Latihan diberikan pada awal tahun keempat bahkan hingga usia 5 tahun
b. Mengajak berbicara
1) Libatkan anak dalam berbagai aktivitas dan ajak berdiskusi mengenai kegiatan tersebut serta rangsang agar anak menggunakan kalimat yang lebih kompleks
2) Mengenalkan angka hingga 10
3) Rangsang agar anak menceritakan tentang masa kecilnya atau kejadian yang pernah dialaminya di masa lalu
4) Rangsang anak untuk bercerita tentang pemikiran imajinasinya

c. Membacakan buku
1) Membacakannya setiap hari dan rangsang anak untuk melanjutkan isi cerita dengan imajinasinya
2) Rangsang anak untuk menceritakan kembali buku yang pernah dibacakan
d. Permainan sosial
1) Biarkan anak melakukan permainan kelompok bersama teman sebayanya
2) Di usia ini, anak sudah siap menghadapi pengalaman baru ketika mereka mulai bersekolah

Stimulasi kemampuan bicara dan bahasa yang disebutkan di atas dapat diberikan sedini mungkin dan dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, yaitu secara bertahap sesuai dengan perkembangan usianya, menerapkan prinsip bermain sambil belajar, tanpa paksaan dan sesuaikan dengan minat balita, kemudian berikan dengan penuh kasih sayang dan selalu berikan pujian juga perkenalkan kata-kata baru serta orangtua harus menjadi model yang baik bagi balitanya.
Selama orangtua dapat mengantisipasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan bicara dan bahasa, maka metode yang telah disebutkan di atas, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasa pada balita. Maka dari itu, tidak ada salahnya bagi orangtua untuk mencoba menerapkan hal tersebut dalam rangka mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa anaknya.

D. Orang yang Tepat untuk Memberikan Stimulasi Kemampuan Bicara dan Bahasa pada Balita
Benny Ciptaraja (2008) mengatakan, “Orang yang bertanggung jawab atas perkembangan balita adalah orangtua balita itu sendiri.” Zaviera (2008) berpendapat, “Stimulasi dilakukan oleh keluarga, terutama ibu atau pengganti ibu. Suasana menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh/ibu dengan balitanya.” Dan menurut Soedjatmiko, pakar tumbuh kembang anak (http://smansakudusteam.com, 2008), “Perkembangan kecerdasan seorang anak diperoleh dengan cara belajar dari lingkungan, yakni dengan melihat, mendengar, merasakan, mengingat, meniru/mencoba, menyimpan/memori, mengulang dan membiasakan.”
Maka dari itu, pakar psikologi anak Seto Mulyadi (http://pustakalebah, 2002) berpendapat:
“Merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, tempat anak tumbuh dengan nyaman, sehingga dapat memancing potensi dirinya, kecerdasan dan percaya diri. Disamping itu orangtua perlu memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap”

Orangtua mempunyai peranan dalam perkembangan kemampuan bicara dan bahasa balita, yaitu dengan memberikan stimulasi serta menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung tumbuh kembangnya. Jangan sampai beranggapan bahwa anak akan pintar berbicara dengan sendirinya, sehingga orangtua tidak perlu memberikan stimulasi kepada anaknya.
Seperti yang terlihat dalam penelitian Trie Hariweni (2003) terhadap 131 ibu yang memiliki balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 53 ibu (40,5%) yang memberikan stimulasi dengan baik, 75 ibu (57,3%) kurang memberikan stimulasi, bahkan terdapat 3 ibu (2,3%) yang tidak memberikan stimulasi. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan stimulasi, termasuk kesadaran. Jika ibu memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pemberian stimulasi pada balitanya, dia akan melakukan apapun agar anak berkembang secara optimal.
Kemudian ada pula kriteria agar orangtua dapat memberikan stimulasi kemampuan bicara dan bahasa pada balitanya dengan baik. Ciptaraja (2008) mengatakan, “Pengasuh yang berpendidikan minimal SMP akan sangat membantu perkembangan balita karena ia sudah bisa berbahasa sekolah (bahasa Indonesia). Dengan begitu kecerdasan berbahasa balita akan berkembang dengan baik.”
Selain itu, orangtua atau pengasuh harus memiliki pengetahuan tentang tahap perkembangan bicara dan bahasa serta pengetahuan tentang stimulasi kemampuan bicara dan bahasa pada balita. Dalam hal ini, diperlukan peran bidan yang akan dibahas pada topik selanjutnya.
Orang tua sangat berperan dalam perkembangan kemampuan bicara dan bahasa balita. Tetapi jika orang tua tidak memiliki waktu untuk selalu mendampingi dan memberikan stimulasi kepada anaknya, maka sebaiknya orangtua harus pintar memilih pengasuh yang baik bagi perkembangan anaknya, seperti tidak pendiam, berbahasa Indonesia, berpendidikan minimal SMP dan sebagainya, karena balita akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama pengasuh.

No comments:

Post a Comment